Bercinta Di Pinggir Jalan Tol

Bercinta di Pinggir Jalan Tol, Koleksi Cerita Dewasa Seks – Danang seorang laki-laki yang sudah beristri sangatlah beruntung karena dia bisa mendapatkan kepuasan Sex dari 2 wanita yang sangat dicintainya. Selain dia mendapatkan kepuasan Sex dari istinya, dia juga mendapatkan kepuasan sex dari janda muda berjilbab yang dikenalnya di Bus pada waktu berangkat kerja. Hubungan Sex
pertama dengan janda muda berjilbab itu dilakukannya di belakang pagar pembatas jalan Tol . Ingin Tahu kelanjutanya para pembaca ??? langsung saja simak cerita dibawah ini !!!
Seperti hari biasanya pada pagi itu aku berangkat ke kantor naik Bus kota. Pagi itu kebetulan sekali aku duduk berdampingan dengan wanita cantik dengan baju hijabnya. Jika kutafsirkan usia wanita itu sekitar 28 tahunan, tinggi badanya dan berat badanyanya cukuplah ideal, tubuhnya sekal berisi dan wajahnya cantik dibalik kerudung hijabnya.

Semula aku tidak perduli denganya, karena aku mempunyai kebiasaan jika setiap berada di bus pasti ngantuk dan inginya tidur saja. Wanita itu memang berkerudung, namun rasa ngantuk-ku tiba-tiba saja hilang, karena wanita berkerudung itu memakai baju lengan panjang dan celana jeans yang serba ketat. Payudara dan area vagina-nya terlihat menyembul sekali.

Dari hal itu mataku yang tadinya merasa ngantuk tiba-tiba saja merasa cerah dan fresh sekali. Sepasang payduara yang montok dan vaginanya yang terlihat menyembul tercetak jelas dari baju dan celana jeans ketatnya. Dan seketika itu juga birahiku tiba-tiba saja menggebu-gebu. Sungguh menggairahkan sekali wanita berkerudung itu, rasanya saat itu ingin sekali meraba tubuhnya.

Aku yang saat itu sangat bernafsu , otak mesum-kupun sekakan memaksaku untuk mencari cara agar bisa dekat denganya. Saat itu kulihat sedang asik telefon entah dengan siapa, kudengar dari pembicaaraan-nya dia suka sekali bercanda. Maka dari itu seketika aku medapat ide dan langsung menyapanya,
“ Wah… wah… ternyata sifat kita hampir sama ya mbak, ” ucapku sok kenal sok dekat.

Saat itu juga wanita itu nampak bingung dengan ucapanku yang tiba-tibra menyambar, saja dia berpikir kalau aku ini sok kenal,
“Hemm… sama bagaimana yah maksudnya?, ” ucapnya nampak bingung.

“ Itu tadi mabk nitip absen sama temenya kayaknya,hhe…, ” sahutku dan dia tertawa kecil.
“ Hahaha, dasar kamu tukang nguping, Emang Mas suka titip absen juga yah sama temenya ” sahutnya sembari tertawa manis.

“ Hhe, iya.., ” jawsabku singkat sembari meringis.
Ternyata berhasil juga siasatku agar bisa mengobrol agar dekat dan mengenal dengan wanita itu. Dari siasat sederhanaku itu, pada akhirnya obrolan kami-pun menjadi panjang lebar. Aku yang mempunyai sifat konyol dan suka bercanda ternyata dia menbyukai sifatku. Wah lampu hijau nih, ucapku dalam hati. Saat itu awal siasat mesumku-pun berjalan dengan lancar,

“ Kamu ternyata lucu orangnya yah Mas, nggak kayak cowok-cowok laennya basi banget,hhe…, ” ucapnya.

“ Maksudnya ?, ” tanyaku agak bingung.
“ Gini nih maksudnya, biasanya kalau cowok lagi kenal sama cewek biasanyakan mereka modus, pasti mereka tanya nama dan akhir-akhirnya mereka minta no Hp kalau nggk pin BB, ” ucapnya menjejaskan kepadaku.

“ Ouh begitu ya Mbak, untung aja aku nggk nanya itu yah, hhe.. kalau tanya bisa-bisa disangkain modus aku ntar, ” ucapku sembari meringis.

“ Hahahaha, iyalah pasti mas, ” jawabnya singkat sembari tertwa lagi.

Setelah itu kami-pun menjadi lebih akrab, sampai pada akhirnya diapun memperkenalkan namanya dengan sendirinya, dan kami-pun saling berkenalan. Wanita muda berjilbab bernama Anis Safitry, dan panggilanya Fitry. Oh iya aku hamper lupa memperkenalkan diriku, namaku Danang, usiaku 32 tahun dan aku sudah beristri dan mempunyai 1 anak laki-laki.
Saat itu kami terus mengobrol dengan akrabnya, sampai pada akhinya obrolan kami-pun berakhir karena dia turun kuningan dan aku meneruskan perjalanalanku untuk kekantorku. Singkat cerita seperti pagi biasanya, aku-pun beranglat kerja dengan anik bus, tidak kusangka ketika aku sedang duduk, tiba-tiba saja wanita semok berjilbab itu menghampiriku dan duduk disebelahku.

Saat itu karena kami merasa sudah cukup akrab, dia-pun mengajak mengobrollagi, dia berkata bahwa teman-temannya sangat penasaran denganku karena dia menceritakan tentang aku. Karena aku mempunyai banyak cerita lucu, maka hari itu kami-pun menjadi lebih akrab. Tiba-tiba saja dia berkata,

“ Oh iya Nang, kamu pasti cowok plaboy yah, soalnya kamu pinter banget membuat aku merasa nyaman dan akrab, omong-omong udah berapa korban kamu di bus Nang???, ” ucapnya tanpa basa-basi.

Seketika itu aku menjadi mati kutu, wajahku tiba-tiba saja terlihat pucat karena ucapan Fitry . Nampaknya modus mesumku mulai tercium olehnya, pada akhirnya aku-pun terpaksa berkata jujur padanya. Aku menceritakan semua tentangnya, bahkan aku menceritakan bawa aku sudah beristri dan mempunyai anak laki-laki.
Kejujuranku itu aku kira akan membuatnya menjadi benci kepadaku, ternyata dari kejujuranku itu dia malah berbalik menceritakan semua tentang masalalu-nya. Sontak aku menjadi kaget, karena menceritakan bahwa dia sudah tidak virgin lagi, karena dia pernah hamil diluar nikah dan pada akhirnya mereka bercerai karena calon anaknya itu keguguran akibat kecerobohanya.

Saat itu juga wajahku-pun menjadi cerah la dan bersemangat lagi. Tidak gadis semuda dan secantik dia telah menjadi JAMU (janda muda), wah kesempatanku untuk bisa mesum denganya semakin terlihat saja nih, ucapku dalam hati. Saat itu obrolan kami-pun berlanjut lagi, akupun mulai menjurus kearah yang berbau sexs.

Tidak kusangka saat itu dia juga menanggapi dengan antusiasnya, seakan-akan sexs adalah hal yang biasa untuk dirinya. Mungkin saja dia berfikir karena dia sudah kaerena kami sudah sama-sama pernah menikah dan obrolan tentang sexs-pun ditanggapinya dengan santainya. Tidak kusangka wanita berkerudung ini sangatlah terbuka dan asik sekali.

Singkat cerita kami-pun sudah saling kenalkurang lebij 1 bulan, sampai suatu sore kami membuat janji untuk pulang bareng di bus yang biasanya kami tumpangi. Hari itu aku yang naik bus dari cideng dan dia menunggu di kuningan pada akhirnya kami-pun bertemu juga. Saat itu Fitry yang berkerudung mengenakan kemeja panjang, dan rok panjang berbahan semi jeans.

Seperti biasa kami-pun duduk berdampingan, bahkan saat itu-pun kami sudah duduk dengan posisi yang sudah menempel. Bahkan Fitry sudah tidak sungkan lagi untuk seseali mencubit pahaku ketika dia menahan tawanya ketika aku berbuat konyol. Saat itu beberapa kali dia aku, sampai pada akhirnya ketika dia mencubit aku menahan tangannya agar tetap diatas pahaku.

Saat itu dia nampak tidak keberatan dengan hal itu, melihat Fitry yang seperti itu lalu aku-pun mulai mengusap-husap lengannya yang terbalut kemeja lengan panjangnya sembari terus berbincang. Sampai pada akhirnya dia menyadari dan berbisik kepadaku,
“ Ehemmm… kayaknya ada yang seneng banget nih menghusap-husap lenganku, nanti lengan bajuku licin loh, hhe…, ” bisiknya menggodaku.
“ Wkwkwk… emangnya aku setrika bisa bikin lengan baju licin dan halus, ” udapku bercanda.
“ Dasar kamu bisa aja ngejawabnya,hahaha…, ” ucapnya sembari tertawa mendengar jawabanku.

“ tahu nggak sih Fut, kamu tuh ngegemesin banget, apalagi bibir tipis kamu tuh, bener-bener bikin aku gemes , ” ucapku mengombal sambil nyengir.

“ Dasar kamu tukang modus, huwww…,” ucapnya dembari mencubit pahaku.

Ketiak dia mencubit tidak sengaja tanganya menyentuh kejantanku dari luar celanaku, seketika itu juga kejantananku-pun sontak merespon dengan membesar dan memanjang secara otomatis dibalik celanaku. Ouh, horny
banget rasanya seketika itu. Saat itu ditengah tidak terasa hari mulailarut, bangku di sekitarku nampak sudah kosong dengan lampu remangnya.

Melihat suasana yang nampaknya mendukung itu, aku-pun memulai siasat mesumku, aku raih tanganya dan aku cium tangan kirinya dengan lembut. Tidak kjusnagka dia tersenyum ketika aku mencium tanganya, bahkan dia meresponku dengan mempkuat genggaman tangannya padaku. Wah, nampaknya semakin terbuka saja kesempatanku untuk ML deganya, ucapku dalam hati.

Setelah itu Fitry-pun tidak kusangka menyenderkan kepalanya di lengan kiriku, melihat kesempatan itu aku-pun kemudian merangkulkan tangnaku dari belakang.

Sehingga saat itu Fitry tersender dalam dadaku dan terpeluk dengan tangan kiriku. Nampaknya dia sudak terbawa dengan suasana hari itu, matannya sendu terlihat semakin cantik dan mengemaskan sekali.

Aku dan Fitry yang akan pulang kebekasi, saat itu perjalanan kami cukup lama, karena para pembaca tahu sendirikan jalan tol maupun jalan biasa pasti macet. Tidak terasa kini bus-pun sudah masuk jalan Tol, aku-pun saat itu makin berani saja,. Tangan kananku mulai berani mengusap buah dada-nya yang dari luar kemejanya itu.

Terasa kenyal dan kencang sekali pbuah dadanya itu, setelah aku menyentuh payudaranya aku tafsirkan ukuran Branya 34 B, lumayan besar kan para pembaca, hhe. Saat itu Fitry-pun tidak mencoba mengelak sama sekali. Melihat kesmepatan itu, secara perlahan jemariku mulai membuka 3 kancing kemejanya hinga kupastikan tanganku cukup untuk menyusup didalamnya.

Setelah berhasil masuk, tanganku mulai menyelinap pada BH-nya. Saaat itupun tanganku sudah bersentuhanlangsung dengan payudaranya . Lalu mulailah aku meraih putingnya dan memplinti-plintir dengan jariku, beberapa saat aku mainkan putting Fitry. Seiring permainanku pada Puttingnya, tangannya-pun mulai mengelus-ngelus kejantananku dari luar.

Ouh.. semakin horny saja aku saait itu. Setelah beberapa kami melakukan hal itu, nampaknya dia sudah horny juga. Sikapnya menjadi agresif , dan dia-pun mulai membuka resleting celanaku lalu tangannya menyelinap begitu saja didalam celana dalamku. Setelah dia meraih kejantanku dia mulai meremas penisku yang sudah ereksi dari tadi dengan penuh birahi sex .

Tanganku yang memainkan buah dadanya
tiba-tiba saja ditariknya dan diarah kan pada kewanitaan-nya saja. Saat itu melihat kondisi didalm bus aku tidak mungkin ngentot
didalam bus, maka yang aku lakukan saat itu hanyalah memainkan kewanitaan-nya dari luar roknya saja. Ketika kami sedang menikmatinya, kami terpaksa harus berhenti karena kami hampir sampai.

Kami yang sama-sama merasa tanggung, dengan sangat terpaksa harus berhenti dan merapaikan pakaian kami masing-masing. Ketika kami sudah turun dari bus, aku mengatakan padanya aku akan mengantar dia sampai rumahnya. Sebelumnya aku sudah tahu bahwa kami akan melewati sela pagar Tol yang sepi sebelum naik angkot.

Selapagar Tol itu suasananya sepi, dan kebetulan sekali hari itu yang turun didaerah itu hanya aku dan Fitry saja. Aku yang merasa hasrat sexs-ku belum tersalurkan, maka hari itu aku-pun merencanakan untuk menyalurkan nafsu sexs-ku di samping sela pagar tol itu. Setelah kami melewati sela pagar Tol itu, nampaknya Fitry memiliki fikiran yang sama denganku.

Ketika kami sudah berada di belakang pagar tol yang sepi itu, akupun menariknya ketempat yang lebih gelap dan menyenderkan dia di pagar Tol lalu dengan penuh nafsu aku
menciumi bibrnya. Aku dengan liarnya melumat bibir tipisnya itu, dengan cekatan Fitry juga menyambut bibirku menghisap dan menyedot bibirku denganpenuh birahi sex .

Sembari berciuman dan mengadu lidah pada mulut kami, tangannya kami-pun tidak diam begitu saja karena hasrat sex kami tadi telah tertunda. Tangan kami dengan cepatnya beraksi, tanganku mengangkat roknya lalu menurunkan celana dalam Fitry sampai dibawah lututnya. Sedangkan Fitry saat itu membuka kancing, resleting dan menurunkan celanaku beserta celana dalamku.

Saat itu tempat itu benar-benar sepi, gelap, dan aman. Kami saat itu saling kami saling memebri rangsangan, sembari terus berciuman, aku mengesek-gesek bibir vagina
dan klitoris Fitry, sebaliknya Fitry juga mengocok penisku yang sbelumnya sudah diberi pelicin yaitu air ludahnya. Kami saat itu sudah terhanyut dalam nafsu sex kami masing-masing,

“ Ouhhhh Mas… terus gesek-gesek itil (clitoris)-ku mas, enak sekali mas, Aaaahhhhhh…, ” ucap fitry mendesah nikmat.

“ Iya sayang,kamu juga terus kocok kontol aku, enak sekali kocokanmu sayang, tanganmu halus… Ouhhh.. Sssshhh… Ahhhhhh…, ” jawabku dengan diiringi desahanku.

Dengan nafas yang memburu dan penuh nafsu kami saling memberi rangsangan, penisku yang sudah tegang maksimal mulai mengelurkan lendirnya sedikit-sedikit, sebaliknya Fitry aku yang menggesek dan memasukan jariku dalam vagina-nya kewanitaan Fitry-pun sudah na,pak basah sekalioleh lendir kawinya. Beberapa saat kamimelakukanitu, lalu,

“ Mas, aku udah nggak tahan nih.. Ouhhhh… Kita ML sekrang yuk … Sssssshhh…, ” ucap Fitry berbisik ditelingaku.

“ Iya sayang, aku juga udah pingin banget
ngentot memek kamu yang gembul ini, ” jawabku dengan nafas memburu.

Saat itu kemudian aku meminta dia sedikit membungku dengan posisi menungging dan bersandar dipagaragar aku bisa membenamkan kejantanku dari belakang ke vaginya. Dengan cepat dia-pun menuruti permintaanku, tanpa banyak bicara lagi,

“ Zlebbbbbbbbbbbbbbbbbbb….Aahhhhhhhhhhh…, ”

Pada akhirnya aku-pun berhasil memasukan penisku kedalam vagina Fitry dengan mudahnya, aku tidak perlu kesusahan lagi karena selain Fitry yang sudah tidak virgin
memeknya saat itu uga sudah basah sekali oleh lendir kawinya. Kepalanya mendongak keatas setelah vaginaya terpenuhi oleh kejantananku,
“ Eughhhh… kontol kamu besar sekali Mas… Ssss… Ahhhhh…, ” dia melenguh ketika penisku sudah tertancap didalm vagina-nya.

“ Iya sayang, nikmati saja yah penisku yang besar dan panjang ini, ” ucapku berbisik.
Kepala saat itu mendongak keatas ketika aku mulai menggenjot keanitaanya denganpenis perkasaku. Aku menyetubuhi-nya dengan penuh nafsu yang sudah tidak terkontrol lagi. Suara hentakan-hentakan kejantanku terdengar ditengah ramainya mobil yang melintas di jalan tol. Dengan gerakan maju mudnur secara konstan aku menjajah vagina Fitry dengan hebatnya,

“ Ouhhhh… Mas… panjang sekali penismu Mas, terus sodok memek aku Mas… Ahhhh…, ” ucapnya meracau nikmat.

Nafsu birahi kami yang menggebu-gebu menyelimuti fikiran kami saat itu. Kami sama-sam merasakan nikmat yang luar biasa, desahan kami bersahut-sahutan secara bergantian. Sekitar 15 menit kami bersetubuh dengan gaya Fitry yang menungging sambil bersandar di pagar. Kemudian Fitry-pun berkata,
“ Mas kita ganti posisi yah, aku pegel nih nungging terus, sekarang kamu duduk nyender di pagar ya Mas, ” ucapnya sembari merubah posisinya.

“ Iya sayang, ” jawabku singkat lalu aku duduk bersender dipagar dengan kedua kakiku bersandar lurus diatas rumput.

Setelah itu Fitripun kemudian mengangkat roknya, lalu jongkok dan meraih kejantanku kemudian diarahkan pada liang senggamanya. Setelah memastikan sudah pada posisinya lalu dibenamkanlah kejantanaku didalam vagina-nya,
“ Zlebbbbbbbbbbb…, ”

Masuklah kembali kejantanku didalamliang senggamanya yang makin becek dengan lendir kawinya. Saat itu kembalilah sensasi sex yang luar biasa menyelimuti kami. Dengan liarnya Fitri megangkat dan menurunkan pantanya diatas kejantanku. Dia beraksi diatas kejantanaku dengan ememgang erat pundaku, sesekali dia bergoyang memutar diatas kejantanaku.

Saat itu rasanya kejantanan-ku seperti teremas dan terjepit oleh kencangnya otot vagina Fitry. Dia bergoyang dengan lincahnya seperti biduan dangdut yang sedang beraksi dipanggung. Desahanku dan desahannya semakin tidak terkontrol saja, mungkin kerasnya desahan kami tidak akan terdengar jika sampai ada orang yang lewat, suara kami teredam oleh suara mobil di tol.

Untuk mengimbangi goyangan memek Fitry, aku-pun mengimbani dengan meyodok dan menenggelamkan kejantanaku dalam-dalam dengan cara mengangkat pinggulku ke atas. Karena perlakuanku yangs seperti itu, Fitry-pun semakin menggila saja dengan goyangan sex ala Fitry,

“Ouhhhhhhhh… Sssss… Ouhhhhhh… Aku jeluar Mas… Ahhhhhhh, ” ucap Fitri diiringi desahan pajangnya.

Sesaat tubuhnya mengejang dan genggaman tanganya pada bahuku sangat kuat sekali saat menikmati orgasmenya. Mulutnya mendesah, wajahnya mendongak, dan matanya terpejam. Sekitar 1 menit dia mengehntikan goyanganya. Karena aku belum mendapat orgasmeku maka aku-pun meminta dia untuk bergoyang lagi diatas kejantananku,

“ Ayo sayang goyang lagi, aku belum ngecrott nih… Ayo buwat aku klimaks sayang, ” ucapku.
Akhirnya tanpa menjawab janda muda itpun kembal imenari denga liarya diatas kejantanaku. Keringat kami bercucuran karena emmang saat itu udara terasa panas sekali. Cuaca yang panas diiringi dengan hubungan sexkami yang pnas juga memberi kenikmatan tersendiri. Kurasakan batang kejantanku semakin basah saja dengan lendir kawin dari vagina Fitry,

“ Yah seperti itu sayang, Ouhhh… Terus goyangkan pinggulmu maju mundur seperti itu, Sssssssshhh… Ahhhh…, ” ucapku.

Mendengar permintaanku Fitry-pun bergoyang semakin gila, aku-pun mengimbangi dengan memaju mudnurkan kejantanku denagnpenuh nafsu. Setelah 10 menit Fitry bergoyang dengan liarnya, aku meras seakan ada yang akan menyembur dari kepala penisku. Denyutan-denyuatn pada kejantananku seakin sering saja,
“ Sayang aku mau keluar nih… Ouhhh… Goyang terus sayang, jepit kuat-kuat kontol aku dengan memek kamu sayng, Ahhhhh…, ” ucapku dengan nafas memburu.

Fitry saat itu benar-benar semaki cepat mengiyangkan pantatnya, dan Jepitan Vaginya juga semakinkuat. Tidak lama setelah itu,
“ Ouhhhhhhhhhh… Crottttttttttt… Crottttttttttt… Crottttttttttt… Crottttttttttt…, ”

Pada akhrinya tersemurlah spermaku dengan derasnya didalam liang senggama Fitry, sungguh luar biasa nikmat yang diberikan Fitry, sampai-sampai saat itu aku mendongakan kepalaku sembari emndesah panjang dan memejamkan kepalaku. Ditengah semburan spermaku didalam Rahim Fitry, dia merapatkan pahanya sehingga Penisku terjepit oleh Vagina Fitry,

“ Eummmm… Ssssssssss… Ahhhhhh…., ” desah Fitry menikmati semburan spermaku.
Saat itu aku menimkmati klimaksku dengan memeluk erat tubuh Fitry, dan Fitry menikmati semburanku dengan mengimpit kuat-kuat kejantanku dengan vaginaya. Malam itu belakang pagar Tol kami menikamati sensasi sex yang luar biasa, aku dan Fitry sungguh sangat puas. Setelah kami selesai menikmati sisa-sisaklimaks kami, kemudian Fitry-pun bergegas berdiri lalu berjongkok disampingku. Dia berjongkok agar spermaku yang tertumpah didalam rahimnya keluar lagi. Smebari berjongkok dia berkata,

“ Bener-bener gilakamu ya Mas, kamu liar dan hebat sekali dalam berhungan sex ya Mas. Jujur Mas, aku sangat puas sekali dengan hubungan sex kita hari ini, ” Ucapnya girang sembari seiring melehnya spermaku yang keluar dari Vagina-nya.

“ Hehehe, Iya dong aku hebat, pasti setelah in ikamu bakal ketagihan dengan nikmatnya Kontol aku yang perkasa ini, hahahha, ” ucapku girang semabri mengecup bibirnya.

“ Hahaha, kamu kali yang bakalketagihan sama memek aku ini, hha…, ” balasnya seakan tak mau kalah dengan ucapanku.

Setelah kami sejenak bercanda dan beristirahat, kami-pun kemudian memebersihkan kemaluan kami, kebetulan sekali saat itu Fitry membaea tissue kering ditasnya. Setelah itu kami-pun kemudian merapikan diri masing-masing dan segera bergegeas keluar dari tempat yang gelap itu lalu menuju kepangkalan angkot.

Saat itu mengantarnya hingga sampai gang perumahanya, setelah mengantar dia aku kembali mencari angkot untuk kembali purang kerumahku. Semenjak hari itu kami sering berangkat dan pulang kerja bersama. Hubungan gelapku dan Fitry tidak diketahui oleh istriku, bahkan kami sampai menyewa rumah kontrakan untuk sekedar memuaskan hasrat kami.

Entah kapan hubunganku akan berakhir, semakin hari aku semakin nyaman saja dengan Fitry, bahkan saking nyamaya dengan Fitry sampai-sampai aku tidak bernafsu dengan Istriku. Namun agar istriku tidak curiga aku tetap memeberi dia kebutuhan Rohani-nya. Aku merasa sangat beruntung sekali karena hubungan antara aku, fitry dan istriku aman-aman saja. TamaT.

Advertisements

Ngintip Anak Majikan Bercinta Dengan Pacarnya

Ngintip Anak Majikan Bercinta Dengan Pacarnya, Koleksi Cerita Dewasa Seks – Aku bekerja menjadi seorang driver pribadi di sebuah keluarga pengusaha bule di daerah Sekar Waru Sanur. Bos ku itu seorang dari Jerman yang lantas kawin dengan Bu Fika dari Bandung. Mereka memiliki tiga orang anak, satu cewek ABG dan dua laki – laki yang masih bocah.

Cewek ABG ini namanya Anggie, dia cewek yang cantik dan tinggi tapi bodynya tidak terlalu sexy soalnya toketnya kecil. Aku memang suka toket gede. Anggie bersekolah di Jerman tapi baru saja pindah ke sebuah SMA International di Bali, umumnya cewek bule yang sudah menginjak umum 17 tahun, mereka diberikan ijin pacaran oleh orang tuanya, seperti juga si anggie, dia punya pacar teman sekelasnya bernama Rio, sepertinya anak ini keturuan indo juga.

Suatu hari Bos ku, Bu Fika dan kedua anaknya yang masih bocah pergi berlibur ke bandung, tinggalah si Anggie yang tidak ikut karena harus sekolah. Hingga di rumah bos hanya ada aku, anggie dan tiga orang pembantu yang berasal dari jawa.

Seperti yang lalu lalu aku ditugaskan menginap di rumah bos bila bos pergi, jadi hari itu aku tidur di rumah bos. Memanfaatkan kesempatan rumah sepi, si Rio cowoknya Anggie datang apel sore itu, seperti layaknya orang pacaran, mereka bercengkrama di ruang tamu, lalu pindah ke pinggir kolam berenang di belakang rumah.

Aku awalnya asik menonton TV di garase mobil dan tidak menghiraukan mereka berdua yang sedang dimabuk asmara. Entah karena apa, tiba – tiba aku ingin membuat kopi di dapur belakang. Saat di dapur aku mendengar desahan erotis, kulebarkan telinga sambil mengendap – endap mencari sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari sebelah gudang yang berdekatan dengan dapur.

Aku sebenarnya tahu, itu pasti ulah anggie dan rio, cuma karena jahil aja, aku lantas pergi ke gudang itu. Mataku tebelalak saat aku melihat mereka berdua sedang bercinta diatas tumpukan kardus – kardus. Anggie dan Rio terkejut melihat kedatangannku, dengan tergesa – gesa mereka mengenakan pakaian kembali. Lalu dengan muka pucat Rio pamit pulang.
Anggie pun begitu, dia dengan pucat pasi memohon agar aku tidak melaporkan hal ini ke bapaknya. Anggie terus memohon sambil mengajak aku ke kamarnya. Hal ini dia lakukan agar pembantu yang lain tidak mendengar pembicaraan kami.

Dalam kamar anggie menawarkan sejumlah uang. Aku yang dari awal memang tidak ada niat untuk melaporkan kenakalan mereka, menolak dengan halus tawaran ini. Anggie menangis tersedu – sedu dan berkata jujur kalau hal ini sering dia lakukan saat rumah kosong.

Saat aku menolak tawaran uang, tak kusangka anggie menawarkan kemolekan tubuhnya sebagai kompensasi tutup mulut. Untuk tawaran yang satu ini, aku pun jadi ragu, ingin rasanya menikmati kemolekan tubuh anggie, tapi aku takut kalau ketahuan pembantu yang lain. Akhirnya kami sepakat untuk bercinta saat pembantu yang lain sudah tidur.

Tepat pukul dua lewat 15 menit, aku perhatikan semua pembantu sudah tertidur lelap dikamarnya masing – masing. Aku pun bergegas ke kamar atas, kamarnya si anggie. Kamar itu terkunci, tapi saat aku gedor perlahan, ternyata di anggie belum tidur, matanya sembab karena menangis.

Saat itu juga aku peluk dia dan yakinkan dia kalau aku tidak akan melaporkan kejadian sore tadi ke orang tua dia, si anggie pun balas memeluk dan sesenggukan di dadaku. Selanjutnya aku menagih janji dia.

Dia ternyata tidak bohong, dia memenuhi janjinya, kami pun bercinta. Awalnya terasa agak hambar, mungkin karena dia masih shock atas kejadian sore tadi. Tapi saat bercinta untuk kedua kalinya, anggie mulai merasakan kenikmatan, setidaknya terlihat dari ekspresi wajahnya yang memerah dan genggaman tangannya yang erat mencengkram lenganku.

Walau aku akui anggie bukanlah pasangan bercinta yang baik, ini mungkin karena dia kurang pengalaman. Namun menikmati kemolekan tubuhnya bagaikan mimpi di siang bolong. Sampai hari ini kami rutin bercinta, terutama bila rumah kosong di tinggal bos pergi.
Kadang anggie sendiri yang meminta bercinta walau lebih banyak aku yang memintanya.

Mungkin anggie merasakan nikmatnya bercinta denganku yang sudah berpengalaman. END

Bercinta Dengan Teman Sekelas

Bercinta Dengan Teman Sekelas, Koleksi Cerita Dewasa – Perkenalkan nama saya Mimi ini kisahku nyata waktu gw masih dibangku SMA, disuatu hari tepatnya hari selasa, waktu gw dikelas situasi membuat aku bingung seolah olah temen temen cowo berubah, apalagi si yoga dia sering berani ngeremas pantat gw saat ada kesempatan malah tak jarang dia senyum-senyum nakal kearah gw.

Puncaknya si aris temen sekelas yg pernah nembak gw tapi gw tolak berbisik sesuatu di telinga gw “mi gw pengen dong ngentotin lo kaya yoga…!!!” gila bagai kesambar petir rasa kaget gw karena ucapan aris itu ditambah lagi dia ngeluarin cd putih yg waktu itu gw pake saat ngentot sama yoga… si yoga bener-bener bangsat karena ga bisa ngejaga rahasia .

si Aris berbisik ke telingaku berkata dengan nada lembut da mendesah “gimana boleh ga??? Apa lo pengen sekolahan tau kalo lo bisa di pake???” akhirnya gw cuman bisa terdiam dengan ucapan aris itu… “ok lu maunya kapan???” saking bingung dan takut akhirnya gw balik nantang aris “tapi lo harus janji rahasia ini jangan ampe bocor…!!!”

“ok tenang aja paling cuman lima orang yg dikasih tau si yoga, gw tunggu lo istirahat di toilet…!!!” setelah itu aris ninggalin gw sambil tersenyum penuh kemenangan… gila berati kalo kelima cowo itu nagih jatah yg sama gw harus ngelayanin lima orang cowo???

Tapi tak apalah toh gw juga nikmatin ko… begitu bisik gw dalam hati. sebelumnya Aris sudah stand by di dalam toilet, setelah ada kesepakatan antara gw dan Aris maka dengan kode gw tinggal ngetuk pintu toilet yg tertutup dua kali setelah itu aris bakal ngebukain pintunya.

Ternyata benar saja ga lama setelah gw ngetuk pintu toilet yg tertutup aris langsung ngebuka pintu dan narik gw kedalam ketoilet, lalu dia nyenderin tubuh gw ditembok setelah itu dengan brutal dia ngulum bibir gw dan tangannya ngeremas pantat sama toket gw,

karena waktu istirhat yg singkat aris telihat buru-buru ngeluarin kontolnya dari celana abu-abu yag dia pake setelah itu dia nurunin cd gw dan ngangkatin rok abu-abu gw dia sesaat terdiam ngeliat hencet gw yg masih bersih karna belum ada bulu yg tumbuh setelah puas mandangin hencet gw lalu dia mulai ngegesekin kontolnya di hencet gw yg mulai basah akibat bergesekan dengan kontol aris.

Tapi dengan posisi berdiri dan gw yg masih make rok aris kesulitan masukin kontolnya di hencet gw,karena gw juga udah kepalang horni maka gw berinisiatip balik badan dan nunggingin pantat gw di depan aris ,tanpa perlu di komando lagi aris segera naikin rok gw keatas pantat dan dengan sangat hati-hati dia mulai neken kontolnya hingga ngebelah hencet gw dan perlahan nerobos masuk. Gw berusha nahan desahan saat kontol aris dengan mantap telah nancap dihencet gw setelah itu dia mulai maju mundurin pantatnya yg diikuti goyangan pantat gw.

Aris terlihat merem melek saat kontolnya dengan lancar keluar masuk di hencet gw, ternyata si aris lumayan kuat juga karena dia bisa bertahan lama walaupun gw ngegoyangin pantat dengan liar ,padahal cowo gw aja ga pernah bisa bertahan lama kalo gw udah goyangin pantat.

Semakin lama hujaman kontol aris di hencet gw semakin cepat hingga ngeluarin bunyi yang indah… tangannyapun kini mulai aktif ngeremas toket gw,, karena situasi yg ga memungkinkan sekuat tenaga gw tahan supaya gw ga mendesah karena takut ketauan,tapi akhirnya gw ga bisa nahan jeritan kenikmatan gw saat tubuh gw dilanda orgasme yg sangat hebat hingga tubuh gw ngejang –ngejang setelah itu aris segera ngeluarin kontolnya dari hencet gw dan nundukin kepala gw kearah kontolnya, tentunya gw paham dengan maksud aris itu.

Maka dengan lincah lidah gw bermain di kepala kontol aris ,tapi tiba-tiba aris ngedorong pantatnya hingga kontolnya masuk di mulut gw lalu dia ngeluar masukin kontolnya di mulut gw dengan gerakan cepat seakan dia lagi ngentotin mulut gw dan tak lama setelah itu tubuh aris ngejang hebat diikuti semprotan spermanya di mulut gw yang terpaksa gw telen semua karena takut belepotan kebaju.

“makasi ya mi.. hencet lo enak!!!” lalu diam-diam dia keluar dari toilet dan ningalin gw yg lagi ngebersihin sisa spermanya di mulut gw

Diana Cewek SMA Menggairahkan

Diana Cewek SMA Menggairahkan , Koleksi Cerita Dewasa Seks – Malam itu tanggal 2 Juni 1999 sekitar pukul 21.30. Aku di dalam mobilku sedang keliling-keliling kota Jakarta.

Rencananya aku hendak meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di seputar HI. Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang bercokol di putaran HI sejak malam ini. Kelihatannya mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah memanjat patung selamat datang, memasang bendera mereka di sana. Tercatat pp, PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Kebanggaan? Atau sebuah ketololan. Kalau ternyata mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara politik. Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir buat partai-partai di Jakarta ini.

Di depan kedutaan Inggris aku parkirkan mobilku, bersama banyak mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam. Aku keluarkan kartu persku, tergantung di leher.

Juga Nikon, kawan baik yang menjadi sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.
Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajahnya yang cantik tersenyum kepadaku. Gadis itu memakai kaos partai yang mengaku reformis,—aku rahasiakan saja baiknya—yang telah dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.

“Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku.
“Iya”.

“Wawancarai kita dong”, Salah seorang temannya nyeletuk.

“Emang mau?”.

“Tentu dong. Tapi photo kita dulu…”

Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.

“Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”.
“Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”.

“Memang akan terus di sini? Sampai pagi?”.
“Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman.”

“Hebat.”

“Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang.” Kata gadis yang menarik perhatianku itu.

Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.

“Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Ray.”
“Saya Diana.” Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.

Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang meninjau dan ‘menyerah’ melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 – 18.00.

Saat aku kembali, gerombolan Diana masih ada di sana.

“Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu.” Pamitku.

“Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya “x” (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang?” Diana berteriak kepadaku.

“Kemana?”

“Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.”

“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?”

“Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.”

Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.

Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)

Diana menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.

“Diana! Pulang lho! Jangan malah…” Teriak salah seorang temannya.

Diana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.

Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Diana telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati. Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di sebuah SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja. Politik? Pusing ah mikirinnya.

Usianya baru 17 tahun, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.

“Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku.
“Sudah.” Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.
“Tidak ikut tadi?”

“Nggak.”
“Kenapa?”
“Lagi marahan aja.”
“Wah.., gawat nih.”
“Biarin aja.”
“Kenapa emangnya?”

“Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku.”
“Perang, dong?”

“Aku marah! Eh dia lebih galak.”
“Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja.”
“Gimana caranya?” Tanyanya polos.
“Kamu selingkuh juga.” Jawabku asal-asalan.
“Bener?”

“Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu.”

“Lho, Mas sendiri cowok.”

“Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha.”

Dia ikut tertawa.

Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Diana meminta satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang.

Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Diana tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis ini benar-benar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang sempurna, tegak berisi.
Tanpa sadar penisku bereaksi.

Aku menyalakan tape mobilku. Diana memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.

“Mas, setelah ini mau kemana?”

“Pulang. Kemana lagi?”

“Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih.” Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.

“Ngapain”

“Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”

“Ipet?”
“Pacarku.”
“Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?”
“Udah terbang bersama asap.” Katanya,

tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.

“Bolehlah.” Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan Diana menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini.

Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Diana tadi. Sampai setengah jam kami hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.

Tiba-tiba Diana mencium pipiku.
“Terima kasih, Mas Ray.”
“Untuk apa?”

“Karena telah mau menemani Diana.”

Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan bibirnya. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium kening Diana terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Diana terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.

Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
“Mas Ray, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya…, aahh…”.

Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil tanganku membuka mini skirtnya.

Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.

Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Diana
“Diana kamu udah pernah dijilatin itunya?”
“Belum…, kenapa?”.
“Mau nyoba nggak?”.

Diana mengangguk perlahan.

Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Diana yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnyana.

Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Diana

“sstt… Aahh!!!”
Aku terus beroperasi di situ

“aahh…, Mas Ray…, gila nikmat bener…, Gila…, saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini…, aahh…, saya nggak tahan nih…, udah deh…”
Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.
“aahh…” Lenguhku

Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.
“Aduh Diana, jangan kena gigi dong…, Sakit. Nanti lecet…”

Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya.

Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya.

“Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat…”

“Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”

Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya kemaluanku menembus lubang kemaluannya.

Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Diana dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.

“sstt…, aahh…, Mas Ray, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih…”
Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanyana. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Diana tersentak kaget.

“Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?”
“Nggak apa-apa, sakit nggak?”
“Sedikit…”

“Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…”

Dan kurasakan lubang kemaluan Diana sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lend*r dalam kemaluan Diana sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Diana tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Diana seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara. “sshh…, sshh…”

Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Diana.

Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Diana. Dan Diana pun merasakannya.
“Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat…., aduh…, barangmu gede banget sih Mas Ray…”

Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Diana, ternyata lubang kemaluan Diana masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan. Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Diana besar, panjang dan kekar.

Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Diana pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Diana goyang ke kanan, bila kutekan pantatku Diana pun menekan pantatnya.
Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Diana, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Diana merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.
Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.

“Aahh Mas Ray…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”

Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.
“Mas Ray…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku.

“aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.
Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.

“Mas Ray…, cabut…, keluarin di luar…”
Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan

“aahh…, ahh…” Aku mengerang.
“Ngghh…, ngghh..”

Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku.

Chrootth…, chrootthh…, crothh…, craatthh…, sebagian menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.

Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.
“Mas Ray…, nikmat banget main sama kamu, rasanya beda sama kalo saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu. Kalau sama Ipet, saya tidak pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?” Katanya sambil membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.

“Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya”

Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Diana, saya juga, saya nggak bakal lupa”.

kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu.